Pages

Rabu, 03 Juli 2013

Kekasihku Inspirasiku


Seorang yang hidup dalam lingkungan keluarga sederhana yang jauh dari kehidupan belimpah kemewahan maupun fasilitas-fasilitas penopang hidup yang menjadi tolak ukur tingkat kekayaan seseorang merupakan sosok yang saya angkat dalam sebuah catatan ini, anak bungsu dari 4 bersaudara, Ayahnya hanyalah seorang pensiunan abdi negara dan abdi masyarakat golongan rendah yang selalu berjuang untuk mencukupi kebutuhan keluarga. Ibunya seorang Ibu Rumah Tangga yang selalu memberikan kasih sayang dan cinta yang tulus dan tak terbatas bagi anak-anaknya.
Lahir di Kotamobagu tanggal 12 Juni 1987, kini ia sudah berusia 25 tahun. Cukup banyak lika-liku kehidupan yang dilaluinya membuat saya tertarik untuk mengangkat sosoknya dalam tulisan ini, namanya Reza Adi Sucipto Damopolii.  Sejak kecil ia seringkali berusaha mencari pekerjaan yang dapat menghasilkan uang untuk tambahan uang jajannya disekolah, tak semuanya bergantung kepada orang tua terkadang untuk membeli buku sering ia mengumpulkan uang dari hasil pekerjaannya.
Setelah menyelesiakan studi Sekolah Menengah di Kotamobagu ia melanjutkan studi pada perguruan tinggi kedinasan IPDN yang membentuk kader-kader pemerintahan. Perjuangannya masuk ke sebuah sekolah tinggi kedinasan memang cukup berat, dimana ia harus bersaing dengan orang-orang berada, baik anak pejabat, pengusaha kaya, maupun sanak keluarga dari para pejabat tinggi. Kita tahu bahwa sekarang yang memiliki ”kekuasaanlah” yang akan mulus dan selalu diutamakan dalam mengikuti seleksi apapun bentuknya, kompetensi yang dimiliki menjadi nomor sekian bahkan dianggap tidak penting.
Awalnya setelah mendapatkan hasil ujian nasional ia sempat terpikir untuk masuk ke sebuah perguruan tinggi di Makassar dan mendalami Ilmu Geologi, namun Ayahnya yang seorang pensiunan Pegawai Negeri Sipil sempat menawarkan untuk mengikuti seleksi masuk  Sekolah Tinggi Pemerintahan Dalam Negeri, ia sempat menolak karna adanya praktek kekerasan yang menjadi headline pada salah satu Televisi Swasta ”Dibalik Tembok STPDN”. Setelah mencari informasi dari berbagai sumber ternyata sudah tidak ada lagi kekerasan di Lembaga itu, iapun berniat untuk mendaftarkan diri dan mengikuti serangkaian tes untuk bisa masuk ke Perguruan Tinggi yang semua biaya pendidikan ditanggung oleh negara itu.
Ia mendaftar bersama dengan 12 orang lainnya yang menjadi utusan Kabupaten Bolaang Mongondow saat itu. Ia tak pernah diantar dan didampingi orang tua seperti peserta liannya yang diantar dan dijemput dengan menggunakan kendaraan mewah. Tes pertama yang diikutinya adalah tes psikologi, ia sangat gigih dalam mempersiapkan dirinya, tentunya dengan belajar mengerjakan soal-soal psikologi dari sebuah buku milik kakaknya yang pernah mengikuti tes serupa. Namun karna ketidak puasannya ia mengunjungi sebuah toko buku dan mempelajari buku tes psikologi ditoko buku itu, sadar bahwa ia tak dapat membeli buku ia pun berjam-jam di toko buku hanya untuk mempelajari sebuah buku kiat-kiat dalam mengikuti tes psikologi, 1450 peserta berkompetisi untuk mengisi soal-soal psikologi. Otak ini katanya tak sepenuhnya bisa diandalkan ia hanya terus berdo’a dan berusaha untuk menggapai hasil yang ia inginkan. Usahanya pun membuahkan hasil ia dinyatakan lulus bersama 4 orang temannya yang menjadi utusan Kabupaten Bolaang Mongondow.
Setelah dinyatakan lulus, ia berhak mengkuti tes selanjutnya yaitu tes kesehatan dan fisik. Perlahan melangkah memasuki Rumah Sakit TNI Manado yang menjadi tempat pelaksanaan tes, ia diusir oleh panitia karna tidak menggunakan pakaian formal layaknya peserta lainnya, ia hanya menggunakan celana jeans dan kemeja langan pendek miliknya saat itu. Namun ia tak pantang menyerah ia langsung menuju sebuah toko dan membeli pakaian yang layak untuk mengikuti seleksi itu, walaupun akhirnya semua uang seadanya habis untuk sepasang celana dan kemeja lengan panjang. Ia kembali ke Rumah Sakit untuk mengikuti tes, untungnya Panitia dapat memaklumi dan mengizinkan untuk masuk dan mengikuti tes kesehatan berlanjut dengan tes fisik, usaha inipun tak sia-sia, ia kembali dinyatakan lulus.
Tes terakhir menanti untuk dilalui, kali ini tes akademis Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, Pengetahuan Umum, Pancasila dan UUD 1945, dan Ilmu Pengetahuan Sosial masing-masing 100 nomor yang harus jawab dalam lembar jawaban komputer. Dalam benaknya ini adalah tes terakhir ditingkat provinsi harus dikerjakan dengan semaksimal mungkin. Selanjutunya tak lupa ia terus berdoa dan bermunajat kepada Sang Khalik agar semuanya tidak akan sia-sia. Sekian lama menunggu saat itupun tiba, pengumuman hasil tes. Sesaat setelah pengumuman ditempelkan ia mulai melihat apa ada namanya dilembaran-lembaran kertas yang terpapang dipapan pengumuman, namun uniknya ia memulainya dari bagian bawah karena ia berpikir bahwa namanya tadiak mingkin akan berada diurutan teratas. Satu persatu nama diperhatikan dari lembaran ketiga sampai lebaran kedua, namanya tak ada. Ia masuk ke lembaran pertama namun kali ini ia mulai dari atas ke bawah dan namanya ada pada urutan ke empat. Rasa syukur yang tak berkesudahan dia panjatkan kepada Sang Pencipta, do’a dan usaha yang sungguh-sungguh akan membuahkan hasil yang kita inginkan.
Iapun berangkat dan meneruskan perjungannya, 4 tahun mengeyam pendidikan kepamong prajaan hari berganti hari, bulan berganti bulan, tahun berganti tahun sampai akhirnya pada bulan maret tahun 2009 ia dapat menyelesaikannya dengan hasil yang memuaskan. Kini ia telah mengabdikan diri pada daerah asal pendaftarannya dan berniat untuk memberikan yang tebaik bagi daerahnya. Dengan motto ”jangan pernah tanyakan apa yang diberikan oleh daerah kepada kita, tapi tanyakan apa yang telah kita berikan untuk daerah kita”.

Sekembalinya di daerah asal, ia sudah ditempatkan dibeberapa instansi pemerintahan kabupaten Bolaang Mongondow, dan pada Badan Kepegawaian Daerah itulah tempat pertama kali ia memulai karirnya sebagai seorang abdi negara dan abdi masyarakat. Baginya dimanapun tempat mengabdi harus selalu memberikan yang terbaik, mendapatkan suatu kepercayaan harus selalu dijalankan dengan penuh dedikasi dan integritas yang tinggi.
Ia juga termasuk orang yang bertanggung jawab dalam segala hal, mulai dari urusan pekerjaan sampai dengan urusan pribadi. Tak pernah mengenal kata putus asa untuk menggapai mimpi-mimpi dan harapannya. Walaupun dia memiliki sifat pemalu, tetapi ia merupakan orang yang suka bergaul dengan siapa saja. Setiap kali dimintai nasehat maupun masukkan oleh orang-orang terdekatnya, ia selalu membuat mereka nyaman untuk mendengarnya. Sosok dewasa inilah yang membuat saya mengisnpirasikannya.

          



PERBEDAAN ADAT PERNIKAHAN ANTARA GORONTALO DAN MANADO


Budaya secara harfiah berasal dari Bahasa Latin yaitu Colere yang memiliki arti mengerjakan tanah, mengolah, memelihara ladang (menurutSoerjanto Poespowardojo 1993) Budaya adalah keseluruhan sistem gagasan tindakan dan hasil karya manusia dalam rangka kehidupan masyarakat yang dijadikan miliki diri manusia dengan cara belajar.
Tugas saya ini mengangkat tentang dua kebudayaan yang berbeda di Indonesia antara suku Gorontalo dan suku Manado mengenai pesta pernikahan.

>> Budaya Gorontalo

http://2.bp.blogspot.com/-HTImEoTHdDc/UXnoEhL1gcI/AAAAAAAAAEM/RnZJIguQ9U4/s1600/jhhh.jpg
Keragaman budaya Indonesia salah satunya terlihat pada prosesi atau adat pernikahan yang berbeda-beda. Provinsi Gorontalo sendiri memegang tradisi yang bernapaskan ajaran Islam. Ada banyak tata cara yang harus dilakukan oleh para mempelai suku Gorontalo.
Tata aturan dan upacara perkawinan suku ini kebanyakan masih memegang tradisi turun temurun yang sebaiknya harus dilestarikan sebagai salah satu kebudayaan bangsa ini.
Berikut ini adalah cara pelaksanaan upacara perkawinan suku Gorontalo :

Acara diadakan didiua tempat, yaitu di rumah mempelai wanita dan di rumah mempelai pria.
Upacara pernikahaan ini bisa berlangsung berhari-hari.
Para kerabat dan keluarga dan bergotong_royong mempersiapkan acara pernikahan ini, beberapa hari     sebelum upacara pernikahan dilaksanakan.
Kedua mempelai mengenakan pakaian adat yang dinamakan Bili’u
Tempat pelaminan yang digunakan oleh kedua mempelai menggunakan adat Gorontalo

>> Budaya Sulawesi Utara (Adat Manado)
http://2.bp.blogspot.com/-6C4Cnh6kJbE/UXnomMCFrFI/AAAAAAAAAEU/7utQ6PgMMoA/s320/hhhh.jpg
Menggunakan sentuhan budaya dalam pernikahan merupakan satu hal yang lazim. Indonesia sendiri sangat kaya akan beragam adat dan budaya yang dapat dipadukan. Ada yang memilih adat Sunda, Jawa dan masih banyak lagi termasuk adat Manado.
Adat Manado lebih sering dikenal sebagai adat Minahasa karena mayoritas penduduk Manado adalah etnis Minahasa. Seperti prosesi pernikahan adat yang lainnya, adat Manada juga mengalami berbagai penyesuaian. Contohnya adalah prosesi Posanan atau pingitan yang tidak lagi dilakukan dengan durasi sebulan. Saat ini, tradisi ini dilakukan cukup satu hari sebelum pernikahan atau pada malam muda-mudi (malam Gagaren). Di dalam penyelenggaraan resepsi juga terdapat beberapa penyesuaian.
-  Proses keseluruhan pernikahan adat Minahasa ini didahului dengan Bacoho ataupun mandi. Kedua calon mempelai akan kepala dan rambut dengan ramuan tradisional sebelum kemudian rambut akan dicuci dengan air bersih.
-  Lumele’ merupakan mandi adat di mana pengantin akan dibasuh dengan air dengan sembilan jenis bunga berwarna putih dan berbau wangi. Kedua calion mempelai akan dibasuh sebanyak sembilan kali dari batas leher ke seluruh tubuh kecuali kepala.
-  Upacara pernikahan dapat dilakukan di rumah mempelai wanita ataupun pria. Secara tradisional akan dibuka dengan prosesi unik dilanjutkan dengan makan pagi bersama sebelum menuju lokasi pengesahan pernikahan.
-  Berikutnya adalah resepsi pernikahan yang pada masa kini sering diadakan di gedung ataupun hotel. Pada resepsi terdapat tradisi membelah kayu bakar dan juga tradisi minum dari bambu.
-  Saat pengantin duduk di plemainan, doa-doa mulai dipanjatkan dan dilanjutkan dengan berbagai traidisi yaitu Pinang Tatenge’en juga Pinang Tawa’ang yang dilanjutkan dengan prosesi membelah kayu.
-  Kedua pengantin lalu akan memakan sedikit nasi berlauk ikan dan lalu minum dari ruas bambu yang masih hijau yang disebut juga kower. Resepsi lalu dilanjutkan dengan upacara adat juga nyanyian-nyanyian oleh rombongan adat di dalam pesta dan tentu lagu yang dinyanyikan menggunakan bahasa daerah.
Pemimpin di dalam setiap prosesi adat pernikahan diberi kebebasan untuk melakukan improvisasi sebisa yang mereka mau tanpa mengurangi nilai.