Pages

Rabu, 03 Juli 2013

PERBEDAAN ADAT PERNIKAHAN ANTARA GORONTALO DAN MANADO


Budaya secara harfiah berasal dari Bahasa Latin yaitu Colere yang memiliki arti mengerjakan tanah, mengolah, memelihara ladang (menurutSoerjanto Poespowardojo 1993) Budaya adalah keseluruhan sistem gagasan tindakan dan hasil karya manusia dalam rangka kehidupan masyarakat yang dijadikan miliki diri manusia dengan cara belajar.
Tugas saya ini mengangkat tentang dua kebudayaan yang berbeda di Indonesia antara suku Gorontalo dan suku Manado mengenai pesta pernikahan.

>> Budaya Gorontalo

http://2.bp.blogspot.com/-HTImEoTHdDc/UXnoEhL1gcI/AAAAAAAAAEM/RnZJIguQ9U4/s1600/jhhh.jpg
Keragaman budaya Indonesia salah satunya terlihat pada prosesi atau adat pernikahan yang berbeda-beda. Provinsi Gorontalo sendiri memegang tradisi yang bernapaskan ajaran Islam. Ada banyak tata cara yang harus dilakukan oleh para mempelai suku Gorontalo.
Tata aturan dan upacara perkawinan suku ini kebanyakan masih memegang tradisi turun temurun yang sebaiknya harus dilestarikan sebagai salah satu kebudayaan bangsa ini.
Berikut ini adalah cara pelaksanaan upacara perkawinan suku Gorontalo :

Acara diadakan didiua tempat, yaitu di rumah mempelai wanita dan di rumah mempelai pria.
Upacara pernikahaan ini bisa berlangsung berhari-hari.
Para kerabat dan keluarga dan bergotong_royong mempersiapkan acara pernikahan ini, beberapa hari     sebelum upacara pernikahan dilaksanakan.
Kedua mempelai mengenakan pakaian adat yang dinamakan Bili’u
Tempat pelaminan yang digunakan oleh kedua mempelai menggunakan adat Gorontalo

>> Budaya Sulawesi Utara (Adat Manado)
http://2.bp.blogspot.com/-6C4Cnh6kJbE/UXnomMCFrFI/AAAAAAAAAEU/7utQ6PgMMoA/s320/hhhh.jpg
Menggunakan sentuhan budaya dalam pernikahan merupakan satu hal yang lazim. Indonesia sendiri sangat kaya akan beragam adat dan budaya yang dapat dipadukan. Ada yang memilih adat Sunda, Jawa dan masih banyak lagi termasuk adat Manado.
Adat Manado lebih sering dikenal sebagai adat Minahasa karena mayoritas penduduk Manado adalah etnis Minahasa. Seperti prosesi pernikahan adat yang lainnya, adat Manada juga mengalami berbagai penyesuaian. Contohnya adalah prosesi Posanan atau pingitan yang tidak lagi dilakukan dengan durasi sebulan. Saat ini, tradisi ini dilakukan cukup satu hari sebelum pernikahan atau pada malam muda-mudi (malam Gagaren). Di dalam penyelenggaraan resepsi juga terdapat beberapa penyesuaian.
-  Proses keseluruhan pernikahan adat Minahasa ini didahului dengan Bacoho ataupun mandi. Kedua calon mempelai akan kepala dan rambut dengan ramuan tradisional sebelum kemudian rambut akan dicuci dengan air bersih.
-  Lumele’ merupakan mandi adat di mana pengantin akan dibasuh dengan air dengan sembilan jenis bunga berwarna putih dan berbau wangi. Kedua calion mempelai akan dibasuh sebanyak sembilan kali dari batas leher ke seluruh tubuh kecuali kepala.
-  Upacara pernikahan dapat dilakukan di rumah mempelai wanita ataupun pria. Secara tradisional akan dibuka dengan prosesi unik dilanjutkan dengan makan pagi bersama sebelum menuju lokasi pengesahan pernikahan.
-  Berikutnya adalah resepsi pernikahan yang pada masa kini sering diadakan di gedung ataupun hotel. Pada resepsi terdapat tradisi membelah kayu bakar dan juga tradisi minum dari bambu.
-  Saat pengantin duduk di plemainan, doa-doa mulai dipanjatkan dan dilanjutkan dengan berbagai traidisi yaitu Pinang Tatenge’en juga Pinang Tawa’ang yang dilanjutkan dengan prosesi membelah kayu.
-  Kedua pengantin lalu akan memakan sedikit nasi berlauk ikan dan lalu minum dari ruas bambu yang masih hijau yang disebut juga kower. Resepsi lalu dilanjutkan dengan upacara adat juga nyanyian-nyanyian oleh rombongan adat di dalam pesta dan tentu lagu yang dinyanyikan menggunakan bahasa daerah.
Pemimpin di dalam setiap prosesi adat pernikahan diberi kebebasan untuk melakukan improvisasi sebisa yang mereka mau tanpa mengurangi nilai.